
|
Story of My Life
12/26/2014 @ 2:50 PM | 0 Comment [s]
Manado siang itu begitu
terik. Matahari seakan sejengkal di atas kepala. Aku sedang kerepotan membawa
barang-barangku ini. Tangan kiri dan kanan ku membawa tas hitam lusuh punya Papa.
Ada beberapa robekan dan lobang di tiap sudut tasnya. Aku pernah naruh permen dan
kelereng di sana pas berangkat sekolah tapi sesampai di sekolah semuanya lenyap
karena sudah berjatuhan di jalan.
Aku engga peduli walau rambut
ku sudah lepek karna keringat. Baju basah, Kena paparan sinar matahari atau asap
polusi dari kendaraan yang wara-wiri.
“pokoknya aku harus menang, demi ayah” tekadnya
bergumam.
Akhirnya kaki kecil ku
terhenti di sebuah gereja cukup besar di tengah kota. Aku tersenyum lebar dan
menarik napas panjang. Seolah penderitaanku terhenti sudah. Aku berjalan pelan
ke pintu masuk. Saat itu suasananya bernuansa merah dan dipenuhi dengan ornament
natal. Di pintu depan terdapat dua pohon natal besar. Ada juga hiasan
bertuliskan Welcome and Merry Christmas di atas pintu. “Welcome home Cindai…” ujarku
dalam hati.
***
15.00 WIT
Gereja sudah dipenuhi
orang-orang. Sekedar pengunjung atau jamaat gereja? Entah lah tapi yang jelas
mereka datang untuk melihat kompetisi ini.
“Cindai? sudah siap?!”
tanya Ibu Maria, pengurus sekaligus panitia kompetisi nyanyi antar gereja
seMenado itu.
“Iya bu, sebentar lagi”
“Ingat ya, kamu jadi
peserta pertama yang tampil. Do your best, show them off!” ujar Ibu paruh baya
itu memberi semangat.
“Yes madam, thank you!”
“Jangan lupa berdoa”
pesannya lalu pergi meninggalkan Cindai dengan segala perlengkapan manggungnya.
Aku mengangguk yakin. Kualihkan
kembali badan ke depan cermin. Aku tertawa geli. Aku tak menyangka! Penampilan
ku tiga ratus enam puluh derajat berubah dari beberapa jam lalu sebelum acara
dimulai. Gaun putih, rambut sudah diblow, agak berombak dan bervolume. Poni
dikesampingkan. Terlihat sedikit lebih dewasa sih. dan pakai heels yang senada
dengan baju. Polesan make up yang natural, terkesan alami dan suci. Perfect!
Engga sia-sia sudah dua
minggu ia belajar make up dari tante khusus untuk acara ini. Peralatan make up
pun semua dipinjamkan oleh tante nya. Aku sadar banget, untuk makan aku dan
keluarga tiap hari saja sudah susah – apa jadinya kalo ditambah beli peralatan
make up? Rasanya tak pernah terpikirkan sama sekali.
Baju dan sepatunya pun diberikan
oleh sahabat ku yang cukup kaya. Sudah tidak terpakai, katanya. ‘My goodness,
baju masih sebagus ini sudah tidak terpakai’?
“Cindai? ayo!” ujar Ibu
Maria mengagetkan.
”Hmm!” Aku mengangguk.
Aku memulai berdoa. kupejamkan
mata sejenak. ‘Tuhan, terimakasih sudah memberikan kesempatan untuk Cindai bisa
ke sini. Terima kasih untuk sepatu, baju dan semuanya. Biarkan Cindai bernyanyi
untukMu, mama, papa dan keluarga. Berikan kesempatan untuk Cindai, untuk bisa membahagiakan
mereka. Amin’
---
Tepuk tangan penonton
menyambut ku. Khawatir dan was-was mulai melipir di pikiran. Berdiri di atas
panggung yang dilatarbelakangi pohon natal merah, lengkap dengan kado-kado di
bawahnya. Ditonton puluhan orang. Ada piano hitam plus dengan sang pianist juga
di sudut panggung. Aku menghela napas.
Tak ada mama atau papa di
sana, yang ada hanya tante dan sahabatku. Papa dan Mama memang tak tau
keikutsertaan ku dalam kompetisi ini. Mereka terlalu khawatir akan ini itu.
Bahkan gimana kalau tau acaranya sangat jauh dari desa? Jangankan meminta izin,
untuk cerita saja rasanya sudah takut. Aku tau sekali karakter mereka.
Aku mulai memberikan kode
ke si pianist. Menandakan siap memulai.
I’m Your Angel
berkumandang di gereja itu. Begitu indah, begitu hikmat, begitu mempesona…
***
“You did a great job
Cindai” puji Ibu Maria di backstage.
“Makasih bu”
“Tinggal kita serahkan
sama Tuhan ya…”
Sekarang tinggal menanti
pengumuman. Rasanya engga mungkin bisa memenangkan lomba ini. Yang
dilatarbelakangi sama les vocal saja belum tentu menang. Apalagi aku? Siapa
aku? Cuma anak dari seorang petani dan buruh cuci, yang lagi bermimpi bisa
menang lomba di acara yang cukup besar ini. Biarlah, namanya juga mimpi. Nanti
saatnya bangun aku juga sudah sadar kembali – ada puluhan pakaian kotor yang
mesti diangkut dari rumah-rumah langganan mama.
“Dan pemenangnya adalah…”
teriak MC antusias
Semua kontestan sudah
berdiri di panggung. Aku tertunduk, hopeless apalagi saat mendengar pengumuman
si pemenang.
“Selamat kepada Angel
sebagai juara lomba menyanyi antar gereja seMenado!!!” teriak MC.
Hancur sudah harapanku.
Sia-sia sudah semua ini. Pinjaman dari tante, pemberian dari sahabatku.
Semuanya tak bisa mengantarkanku jadi pemenang. Maafin aku semuanya…
Aku pulang dengan
tertunduk. Walaupun orang-orang bilang penampilanku bagus tapi tetap saja aku
bukan pemenang. Rasanya malu, kecewa dan sedih. Semuanya campur aduk! Hiburan
dari tante dan sahabatku saja rasanya tak berpengaruh apapun. Aku tetap jalan
tertunduk. Membawa semua serpihan harapan ini kembali pulang untuk ku rajut
kembali.
***
Seminggu setelah kompetisi
itu, rasanya hidupku mulai tak tenang. Ada saja orang yang mencariku. Bahkan
sehari saja, bisa ada puluhan kali telpon yang berdering mencariku. Hmm
maksudnya bukan telpon aku tetapi telepon tetangga yang mencariku.
Rata-rata yang menelpon
adalah orang-orang yang hadir di kompetisi itu. Mereka semua mengajak aku untuk
ke Jakarta, menjadi penyanyi professional di sana. Ah tapi sama sajalah, toh pada
akhirnya sebuah mimpi akan tetap menjadi mimpi. Aku hiraukan mereka semua.
Lalu ada orang dermawan
yang datang di suatu pagi. Dia mengetuk pintu rumahku secara perlahan. Papa
keluar dan diikuti oleh mama. Mereka berbicara serius dan sangat serius. Aku
sampai enggak berani untuk diam-diam mengupingnya.
Sampai akhirnya mereka
semua melirik ku dengan tajam. Aku takut! Papa engga pernah punya pandangan
setajam itu. Apa aku berbuat salah? Mama juga. Matanya mulai berair. Ada apa
ini?
“Pergilah ke Jakarta nak”
ucap Papa
“Pa? kenapa?” tanya ku
kaget
“Pergilah nak, kejar mimpi
mu” tambah Mama
“Ini ada apa sih?”
Lalu aku mulai tahu kalau
orang dermawan itu adalah seorang produser. Dia diperlihatkan oleh tante ku video
penampilanku saat kompetisi itu. Aku engga tahu bagaimana dia bisa meyakinkan
Mama dan Papa sampai aku diperbolehkan pergi ke Jakarta.
Namun yang jelas, atas
seizin dari kedua orang tua ku itu – aku ke Jakarta. Anak desa kayak aku bisa
menginjakkan kaki di kota semetropolitan seperti Jakarta rasanya seperti mimpi.
Aku tersenyum lebar di dalam pesawat. Pesawat pertama kali yang aku tumpangi
ini juga akan menjadi secuil cerita yang aku akan bagikan saat sukses nanti.
***
Berbulan-bulan aku
menumpang di rumah Pak Produser ini. Oh tidak, dia bukan hanya produser tapi
juga seorang mentor dan ayah. Aku bersyukur sekali sama Tuhan dipertemukan
orang baik seperti dia. Aku tak hanya dibekali dengan latihan vocal tapi juga
penampilan dan atitut. It is whole package!
Berpindah-pindah dari tv
satu dan lain. Berpindah-pindah dari radio satu dan lain. Berpindah-pindah dari
mall satu dan lain. Berpindah-pindah dari sekolah satu dan lain untuk promosi
debut pertama. Rasanya capek dan lelah kalau sampai perjuangan ini akhirnya
akan sama seperti yang udah-udah.
Namun Ibu Maria sesekali
suka telpon. Kadang hanya sekedar tanya kabar tapi seringnya juga memberi
semangat. Dia selalu bilang Tuhan akan selalu ada untuk umatnya yang berusaha.
Itu suplemen yang aku ingat tiap hari. Tiap kali ingat itu, seketika itu juga
aku semangat. Terima kasih ibu Maria!
When opportunity meets
ability, it is a luck!!! Aku engga lagi promo. Saatnya memanen apa yang sudah
ditanam. Tawaran manggung engga berhenti-hentinya datang. Dari dalam kota, luar
kota, luar negera bahkan luar benua. Puji Tuhan! Bahkan engga hanya dapat tawaran
nyanyi, film pun berdatangan. Banyak produser yang mau mengangkat kisah sedihku
but I don’t want to sell my sadness or family background. I will sell my
ability in singing. Let my past is always be my past but they will always be my
parts in story of my life.
“Seperti itu lah kisah ku…”
ujar Cindai tersenyum lebar
Cindai mengakhiri
ceritanya di mimbar Gereja Manado, tempatnya beribadah tiap minggu sewaktu
masih tinggal di Manado. Jemaat di dalam sana, memberi standing applause
terhadap kisah inspiratif yang baru saja dibagikan oleh Cindai. Ada Ibu Maria
dan Pak Produser juga disana. Ikut bertepuk tangan bangga. Mama dan Papa tak bisa
menahan air matanya. Mereka semua berdiri, menatap bangga putri kebanggaan kota
Manado.
Label: Cerpen Birthday
8/01/2014 @ 7:06 PM | 0 Comment [s]
Bagas tampak
termenung di ruang tengah, di sebuah asrama Idola. Disana berkumpul semua para
calon idola, mereka di sini belajar dan berlatih; bukan hanya berlatih
bagaimana menyanyi dan menari dengan baik tapi mereka juga diajarkan bagaimana menjadi
seorang idola yg memiliki attitude yang baik. Bagas salah satu member idola
yang sudah bergabung di asrama itu sejak
tahun lalu dan sekarang asrama dan teman-temannya adalah keluarga barunya.
Dia masih
termenung. Tayangan tv dan keberisikan teman-temannya yg berkumpul di sana tak
membuat dirinya lepas dari ketermenungannya. Kaki nya di selonjorkan, ditaruh
di atas meja, badannya disenderkan lemas di sofa hitam empuk, kedua tangannya
dilipat, ditekuk didekap dadanya dan sesekali ia menghela napas panjang.
Cindai keluar
dari kamarnya dengan wajah sumringah dan langsung turun menuju ruang tengah.
Matanya langsung tertuju ke seseorang yg memakai kaos biru yg sedang santai di
sofa sana. Dia mendekat, mengendap-ngendap dari belakang dan hap! Cindai menutup
mata Bagas dari belakang “tebak siapa aku” tanya nya.
Bagas kaget
dan tersenyum dikit. Dia belum mau menjawab. “ih siapa aku!?” tanya Cindai
gregetan. “hmm…” Bagas pura-pura mikir. Dia mengendus, mencium aroma wangi
shampoo dari rabut Cindai yg basah. “shampoo nya ganti ya?” tanya Bagas ngawur.
“ck iiiih”
Cindai kesel. Dia loncat ke sofa dari belakang dengan bête. Bagas tersenyum
puas. Wajahnya langsung berubah 180 derajat. Berbalik dengan Cindai, wajahnya langsung
ditekuk, mulutnya dimajukkan beberapa centi. “heh!” sikut Bagas mencoba
menggoda. “tau ah!” balas Cindai jutek. “diiih emang wangi nya beda, kamu ganti
shampoo ya?” kekeuh Bagas, sambil mencium rambut Cindai. “jangan pegang,
pegang!” sewot Cindai. menarik rambutnya dan menggeser duduknya sedikit. Bagas kembali
tersenyum, dia pun ikut menggeser tubuhnya. Cindai kembali menggeser, dan
begitu pula dengan Bagas. “iiih Bagas!!!” teriak Cindai. “iiih Cindai!!!”
teriak Bagas.
Sontak anak-anak
yg lain langsung melihat Bagas Cindai. “Ciyeeeeeeeeeeee” sorak mereka. “yee
biasa deh tom & jerry” ledek Difa. “deket berantem, jauh ngangenin haha”
timpal Gilang. Cindai langsung melempar bantal sofa tepat ke muka Gilang. “tadi
aja murung sekarang senyum-senyum sendiri” samber Chelsea. “siapa yg murung?”
tanya Cindai. “tuh!” Chelsea memajukkan mulutnya mengarah ke Bagas. Cindai
melihat Bagas cepat, dengan seksama dia memperhatikan cowok di samping nya itu,
dahinya dikerutkan seperti penyidik yg sedang menginterograsi, “kamu murung
kenapa?” tanyanya curiga. Bagas menyunggingkan senyumnya lebar, matanya tenggelam
kemudian menggeleng-geleng, “gak pa-pa” ujarnya. “bohooong!” Cindai tak
percaya, “ih kenapa sih gas, cerita deh” desaknya. “gak pa-pa Cindai…” ujar
Bagas sambil memegang kedua pipi Cindai yg chubby. “yaudah kalo kamu gak mau
cerita!” Cindai masih bête, mulutnya dimajukan. Bagas kembali tersenyum,
tangannya diletakkan di kepala Cindai dan mengelus-elus rambut ceweknya.
Jam dinding
masih memutar, makin lama makin larut. Makin lama makin sunyi. Satu persatu
anak-anak sudah masuk kamarnya masing-masing. Sekarang hanya ada suara detakan
jam yg sedikit menyeramkan. Cindai masih sibuk main game di gadget nya. Bagas
masih sibuk memperhatikan cewek di sampingnya, sambil memutar otak bagaimana
mengutarakan hal yg mengganggu pikirannya itu ke Cindai.
“besok aku
gak bisa ikut birthday party kamu” ujar
Bagas pelan, memecahkan keheningan. Cindai sontak terdiam, game nya dibiarkan. “apa
gas?” tanyanya memastikan omongan Bagas tadi. “besok pagi-pagi aku harus ke
Jakarta, training di PH untuk debut pertama ku” beber Bagas. “hmmm… yaudah”
balas Cindai pelan. Bagas menegakkan badannya, matanya menatap Cindai serius
dan memegang kedua tangannya, “tapi ndai, aku tuh bener-bener bingung. Aku gak
mau ninggalin kamu tapi training itu sangat penting buat karir aku. kamu tau
kan, PH itu sangat besar dan pasti mereka gak sembarangan mau ngorbitin artis
baru dan ini jadi kesempatan aku!” ujar Bagas semangat. Cindai tersenyum, “iya
gas, aku ngerti kok. ini kesempatan kamu dan kamu betul, kamu gak boleh
nyia-nyiain. Kamu harus datang, kamu harus manfaatkan kesempatan kamu itu” ujar
Cindai dengan semangat. “tapi aku gak mau ninggalin kamu apalagi di hari
terpenting kamu” Bagas menunduk lemas. “Bagas…” Cindai menegakkan kepala Bagas,
“bener aku gak pa-pa. ulang taun aku kan masih ada taun-taun berikutnya tapi
kalo kesempatan kamu, belum tentu terulang kembali” ujar Cindai lirih, sambil
mengusap-ngusap pipi Bagas. Tentunya ia tak rela ditinggalkan Bagas apalagi di
hari ulang taunnya tapi dia sadar, dia gak mungkin menahan Bagas. Dia gak mau
menjadi cewek yg sangat egois. Bagas semakin tak enak dan tak tega meninggalkan
Cindai. mimpinya dan perasaanya bener-bener tak akur malam itu. Bahkan ia tak
sanggup melihat mata Cindai. Tangannya kembali menggenggam erat kedua tangan
Cindai dan matanya mulai berkaca-kaca. Cindai memeluk Bagas erat, mencoba menenangkan
perasaan cowoknya itu sambil mengusap-usap bahu Bagas dan tanpa terasa Cindai meneteskan
air mata kemudian langsung menghapusnya. Sementara Bagas membenamkan kepalanya.
Pagi itu
koper besar sudah siap di teras asrama. Anak-anak asrama udah rapih dengan baju
latihannya. Pagi itu latihan koreografi tapi sebelum itu mereka sudah siap mau
melepas kepergian salah satu membernya. “ah elu kayak tereleminasi aja gas”
cibir Rafli. “kalo udah terkenal jangan lupain kita-kita ya gas” tepuk Gilang
memberi pesan. Bagas ketawa garing, “ah elu bisa aja, gak bakal lah gue lupain
kalian semua” ujar Bagas. “yakin???” Chelsea tak percaya. Semua anak-anak
ketawa, “mungkin kalo Cindai gue baru percaya” tambah Chelsea. Cindai tersenyum
kecil, agak sedikit dipaksakan. Sementara Chelsea langsung diberi kode oleh yg
lain kalo di sana masih ada kak Agung, manager yg menangani mereka semua. Mungkin
kalo hanya ada mereka, mereka berani meledek Bagas & Cindai tapi kalo ada si
manager – mereka mau tidak mau harus jaga perkataan mereka. Itu semua karna ada
larangan tiap member asrama berpacaran. But you know, rules should be broken
eh? Mereka tau larangan itu dan mereka juga bareng-bareng ngelanggar peraturan
itu. Difa-Angel, Marsha-Rafli, Bagas-Cindai, semua nya juga tau kalo mereka
pacaran tapi tidak untuk si Manager. “kalo Cindai kenapa?” tanya kak Agung
tiba-tiba. “ah gak pa-pa kak” kelak Gilang dengan cepat. “ah yaudah ayo gas,
nanti ketinggalan pesawat” seru kak Agung dengan lantang sambil beranjak pergi,
menuju mobil. “oh iya kak!” jawab Bagas juga dengan lantang.
Sekarang sudah
saatnya pamitan ke semuanya. Bagas memeluki teman-temannya satu persatu. Pesan per
pesan didengarnya; ada yg bagus tapi banyak juga yg ngawur. Maklum mereka semua
sudah seperti kakak-adik, kadang akur tapi sering juga berantem but over all
mereka saling menyayangi. Tiba saatnya, pamitan ke Cindai. “Bagas pergi dulu ya”
ujar Bagas lesu. “iyaaa… hati-hati ya” jawab Cindai dengan senyum. Mereka berpelukan
erat lama sekali. Tiiiin!!! Lalu mereka dikagetkan dengan suara klakson mobil
yg dibunyikan kak Agung. Dan mereka segera menyudahi pamitan itu dengan
cipika-cipiki. Bye…!!!
Dalam penerbangan
menuju Jakarta, Bagas cuma terdiam melihat awan-awan yg bergerak dari jendela. Sesekali
menarik napas panjang. Malam nanti, tepat jam 12 Bagas tak bisa ikut merayakan
pesta di asrama. Bagas kembali menghela napas panjang, lalu dikeluarkannya
sebuah kotak kecil dari jaketnya. Kotak kecil itu berwarna hitam dan isinya ternyata
hanya sebuah gantungan handphone berbentuk love. Bagas lalu memandanginya terus
menerus dengan senyum penuh penyesalan. Dia ingat waktu membeli gantungan itu
di toko souvenir Strawberry. Tiba-tiba memori flashback ter-rewind. “gas ini
bagus deh!” ujar Cindai memamerkan sepasang gantungan berbentuk love. “ck ih
engga ah, ini baru keren” tolak Bagas, kini gantian memamerkan gantungan
skeleton nya. “ih serem deh! ini aja ya, ya ya…” paksa Cindai manja. “ah masa
aku pake lope-lope’an ah, ngaco!” tolak Bagas dan pergi. “iiih Bagaaaas… !!!” tahan
Cindai sambil merengek, “lucu tauuu!!!” tambahnya. “beli ya ya ya ya…” masih
rengeknya. Bagas menggeleng-geleng, wajah manjanya Cindai meluluhkan hatinya. Ia
sama sekali tak bisa menolak permintaan ceweknya itu. “yaudah…” ucap Bagas dan
Cindai loncat kegirangan. “eh tapi aku gak pake itu ya, masa samaan! Entar ketaun
kak Agung berabeh lagi” saran Bagas. Cindai sedikit kecewa tapi akhirnya dia
mau mengerti, “iya deh tapi disimpen yaa” katanya. “hmmm simpen gak yaaa…” goda
Bagas. “iiih kamu apaan sih! awas aja kalo dikasih ke cewek laen!!!” Cindai
ngambek. Bagas tertawa puas, menurutnya semakin cemberut, semakin manis wajah
Cindai. “jangankan benda sekecil ini, perasaan sayang aku ke kamu yg gak
keliatan juga selalu aku simpen” ucap Bagas. “ngoook!!!” Cindai mengusap muka
Bagas geli.
Kejadian itu
sekitar beberapa bulan yg lalu. Kini Bagas engga cuma tersenyum tapi dia juga
tertawa mengenang kejadian itu. “gas kenapa?” tanya kak Agung di sebelahnya. “ah?!
gak pa-pa kak” jawab Bagas kaget dan kembali meneruskan senyum lebarnya.
Jam menunjukkan
pukul 7 malam. Selesai meeting dengan PH tadi siang, sore nya jadwal Bagas langsung
diisi dengan latihan-latihan kecil. Semuanya lagi-lagi untuk menunjang
performance nya dia saat debut nanti. Namun malam ini ia hanya berdiam diri di
hotel. Managernya sengaja memberikannya skejul hari itu lebih cepat, agar bisa
beristirahat lebih cepat juga karna besok akan ada seabrek skejul latihan yg
harus dijalani Bagas.
Bagas mondar-mandir
tak tenang. Bolak-balik melihat jam di dinding. 5 jam lagi menuju jam 12, 5 jam
lagi menuju ulang taun Cindai. Hatinya berkecamuk! “ih ngapain gue di sini cuma
duduk diem!” gumam nya. Dia segera mengambil jaket. Tapi tiba-tiba, “gas, mau
kemana?” tanya seseorang di depan pintu. “ah?!” kaget Bagas, “gak kemana-mana
kak” jawab Bagas kikuk. “good! Inget besok pagi kamu harus latihan vocal dan
jangan telat! Disiplin itu nomor satu!” tegas kak Agung dan pergi ke kamarnya. Bagas
cuma mengangguk, antara ngerti dan pasrah. “aaaaaarrrgg!!!” Bagas
mengusap-ngusap mukanya kesal, “okay tenang tenang” Bagas menghela napas. “baiklah...”
ucap Bagas yakin dan pergi meninggalkan kamar hotelnya.
Asrama Idola,
Bali jam 12.00
Semua penghuni
asrama sudah kumpul untuk meniup lilin di birthday nya Cindai. Gak mewah-mewah
banget, cuma kumpul-kumpul di ruang tengah dengan dekorasi balon-balon
berbentuk angka dan huruf seadanya. Semuanya didekor oleh anak-anak dan dibantu
oleh beberapa pekerja yg kerja di asrama itu. Cindai dihujani ucapan-ucapan
baik dari temen-temennya. Walaupun wajahnya tak sesumringah biasanya namun ia
tetep berusaha bahagia di depan semuanya. “makasih yaaa” ujarnya senyum ke
setiap orang yg memberinya ucapan selamat. “Bagas gak nelpon ndai?” tanya
Chelsea tiba-tiba di tengah keramaian. “engga… mungkin masih sibuk” jawab
Cindai. “yaelah sibuk apaan malem-malem gini” sinis Chelsea. Cindai tersenyum, “yaaa
namanya juga mau debut pasti latihannya jor-jor’an” ujar Cindai mencoba positif
thinking.
Dan jlep! Tiba-tiba
lampu padam! “ya olloh malem-malem mati lampu” celetuk Gilang. “nih asrama
belom bayar listrik apa ya?!” tambah Novi. “harusnya tadi lilinnya gak usah
ditiup ndai” ujar Difa. “yaaah yakali” balas Cindai. “mba Anyuuun nyalain
lilinnya dong!!!” teriak Chelsea ke salah seorang pekerja di asrama itu.
“aaaww”
teriak Cindai tiba-tiba. “fa, loe pegang-pegang gue ya?!” tanya Cindai dalam
kegelapan. “Apa?!” sontak Angel. “difaaa ih kamu mesum banget sih!” tambah
Angel. “ya Allah gue gak ngapa-ngapain, tangan gue masih megang kue!” bela
Difa. “lah tadi siapa yg pegang-pegang gue?!” Cindai masih heran. “nah loh!
setannya Bagas kali” celetuk Gilang. “haha bener bener benerrr” tambah Rafli. “apaan
sih!!!” kesal Cindai. “yaaa secara yg berani pegang-pegang lu kan Bagas doang”
tambah Marsha kompak. “hah?! elu sering dipegang-pegang Bagas ndai?” tanya
Dinda pilon. “aaaah apaan sih elo semua! Ngaco!!!” Cindai semakin kesal dan yg
lain kompak mentertawakannya.
Dan kemudian
lampu pun menyala, atau dinyalakan kembali lebih tepatnya. Dan sudah ada sosok
Bagas tepat di depan Cindai. Cindai menutup mulutnya kaget, matanya mulai
berkaca-kaca. “Bagas???” ujar Cindai kaget, “kamu ngapain di sini?” tambahnya. “taraaaaaa”
tawa Bagas dengan sumringah. “ih kamu ditanya serius juga” cibir Cindai. “haha
tapi seneng kan aku dateng?” Bagas tanya balik. Cindai belum mampu
berkata-kata, masih sibuk mengusap air mata yg keluar. “udaaah jangan nangis”
Bagas mengusap air mata Cindai, “kamu mah jelek kalo nangis” tambahnya. Cindai ketawa
dan sedikit kesal lalu memukul cowok di depannya, “kamu maaah…” ujarnya dan
langsung dipeluk Bagas erat. “happy birthday sayaaaang…” ucap Bagas lalu
mencium kepala Cindai.
“ciyeeeeeeeeeeeeee”
sorak anak-anak. “tuh kan pasti Bagas deh!” ujar Gilang. “iyaaa tiba-tiba
dateng kayak setan aja lu!” tambah Difa. “kampreeet lu! gue bela-belain terbang
dari Jakarta malam ini” bantah Bagas. “kak Agung gak tau?” tanya Cindai curiga.
“hmmm gak akan tau kalo gak dikasih tau” Bagas berdiplomasi. “kalo dia sampe
tau?” tanya Chelsea merusak suasana. Anak-anak hanya saling pandang kemudian
kompak bilang, “who cares???”
Dan mereka
have fun dalam party malam itu. Mungkin satu hal yg Bagas pelajari dalam hal
ini bahwa hari ini ya hari ini, besok ya besok. Kita gak pernah tau apa yg
terjadi besok, bahkan kita gak tau kita bisa menatap besok atau engga tapi
selagi kita menikmati hari ini dengan sepenuh hati, setidaknya kita akan
bahagia hari ini. Ya karna kita gak punya garansi juga apakah besok akan
bahagia seperti kemarin atau tidak. At least you have to do things wholeheartedly
in order to avoid the regret in the future.
-the end-
Label: Cerpen Ku Tunggu Kau di Jakarta
5/26/2014 @ 11:58 AM | 0 Comment [s]
Manado di pagi hari…
Maret, 2014
Suara handphone berdering nyaring,
bersaut-sautan dengan ayam berkokok. Jam menununjukkan pukul 6 pagi namun
Manado masih saja sunyi sepi. Deringan handphone semakin keras namun tak ada
satu pun orang menjawab.
Sudah berbulan-bulan Bagas & Cindai tak
bertemu. Sudah berkali-kali juga Bagas menghubungi seseorang yg disayangnya
itu, namun nihil…
Terakhir kali mereka bertemu, saat birthday
party nya Chelsea di Jakarta. Waktu itu mungkin terakhir kali nya mereka
bersama. Setelah itu mereka seperti tidak mau saling kenal, oh no no no –
mungkin hanya Cindai yg tidak mau lagi kenal Bagas.
Meskipun begitu Bagas terus berusaha untuk
mengembalikan hubungan mereka seperti dulu, mencoba menghubungi Cindai terus
menerus tapi percuma… Cindai sudah menutup hati nya rapat-rapat untuk Bagas. Bagi
Cindai, kejadian waktu itu sudah membuatnya sadar kalau Bagas bukanlah cowok yg
baik, bukan seseorang yg pantas dipertahankan dan diperjuangkan. Rasanya semua
kepercayaan dia terhadap Bagas selama ini, runtuh tak berbekas.
Oktober 2013,
Semua orang terlihat bahagia. Semua orang terlihat
larut dalam pesta yg diadakan Chelsea di ultahnya yg ke 17. Semua family,
friend hadir untuk menyelamati gadis cantik itu.
Cindai, salah satu guest special bagi Chelsea.
Seorang sahabat yg sudah dikenalnya dari SD sampai sekarang. Difa juga engga
kalah specialnya. Cowok yg beberapa taun terakhir selalu dampingin Chelsea itu,
terlihat charming dengan kemeja putih nya.
Bagas, satu-satunya sahabat yg missing saat itu.
Sudah dua jam pesta berjalan – Bagas belum juga datang. Sudah bolak-balik
Cindai melihat jam tangannya, berkali-kali melihat pintu depan dengan gelisah,
berkali-kali juga melihat handpone yg dipegangnya; berharap seseorang
mengangkat telponya atau ada seseorang yg menghubungi nya walaupun itu hanya
sekedar SMS but it never happen. Bagas masih belum terlihat di pesta yg
bertemakan putih itu.
Di tempat lain…
“Gas, kamu kenapa sih gelisah gitu?” tanya mama
Bagas dalam perjalan pulang. “ah engga papa ma” jawab Bagas datar. “pak Amir,
bisa cepetan dikit ga?” perintah Bagas ke supir yg mengantar mereka sambil
memutar-mutar handphone nya yg lowbet.
Mama Bagas tak mengerti dengan tingkah anaknya
itu. Dia hanya menggeleng dan melajutkan pandangannya ke jalan.
Setelah mendrop mama nya di depan rumah, Bagas
cuss menuju b’day party nya Chelsea. Berharap ia engga cukup telat untuk bisa
menikmati seru nya pesta itu. Selain itu… dia ingin menepati janji ke seseorang
yg telah membuatnya gelisah di acara arisan mamanya.
Bagas sudah terlanjur janji. Janji nya adalah,
ia akan datang malam itu apapun yg terjadi. Janjinya adalah dia akan
mendampingi Cindai malam itu. Janjinya adalah dia akan menjadi the only one
Cindai’s prince tapi semua itu kayaknya akan berakhir tidak sesuai harapan. Dia
datang 10 menit sebelum pestanya usai.
Di tempat pesta…
“Masih belom dateng ndai?” tanya Chelsea. “engga
tau lah. Udah jam segini mah engga dateng kali” jawab Cindai datar.
“mungkin ada urusan kali si Bagas” Difa
berspekulasi. Cindai hanya menggerutkan dahi nya.
Saat mereka baru mau meninggalkan pesta, ada
suara hiruk-pikuk dari taman samping. Semua orang di taman bersorak-soray dan
bertepuk tangan.
Di taman pandangan orang-orang tertuju pada satu
pemandangan yg tak biasa. Pemandangan yg siapapun melihatnya tak akan percaya.
Ada Bagas, seseorang yg ditunggu Cindai daritadi terlihat sedang mencium salah
satu tamu pesta. “Ciyeeeeeeeee” ledek semua orang. Dan Bella, seseorang yg
diteriakan anak-anak di sana tampak memeluk Bagas sangat erat. Memeluknya erat,
melingkarkan kedua tangannya di leher Bagas hingga membuat rambut Bagas
berantakkan tak beraturan.
Cindai melihat pemandangan itu dengan kedua
matanya. Dia tak mau mempercayainya tapi apa yg diliatnya adalah nyata, itu
Bagas! Benar itu Bagas! Dadanya mendadak terasa sesak, kaki nya terasa tak
cukup kuat untuk menopang tubuhnya.
Dan Cindai beranjak meninggalkan tempat itu
dengan bercucuran air mata. Ia tak mau satu orang pun tau dia kalo dia sedang
menangis, termasuk sahabatnya. “Cindai…” ujar Chelsea berusaha mencegah Cindai
pergi.
Di sisi lain, Bagas bersusah payah menyudahi hal
yg memalukan itu. Penampilannya jadi berantakan, sekitar mulutnya belepotan
sisa-sisa lipstick yg menempel. Dia melihat Bella dengan geram. Ia bingung
persis seperti orang bodoh! Ia melihat sekitar, sampai akhirnya melihat ada seseorang
sedang berlari meninggalkan taman. Dan dia tau itu Cindai…
Bagas sontak berlari mengejarnya, sambil
mengelap mulutnya dengan kemeja putihnya. Mata nya mulai berkaca-kaca. Dia tau,
Cindai marah besar dengannya. Meskipun begitu ia engga peduli, yg dia pedulikan
adalah apakah Cindai mau mendengarkan penjelasannya dan mau memaafkannya?
Dengan pikiran kacau, ia terus berlari…
“Cindaaaai!!!” teriaknya sambil meraih tangan
Cindai. Dengan napas yg ngos-ngosan dia menghentikan Cindai dengan memeluknya
dari belakang. “itu semua engga seperti yg kamu liat ndai…” ujar Bagas dengan
cepat.
Cindai berontak, dia berbalik badan. Matanya merah,
mungkin tangannya sudah udah lelah menghapus air matanya lalu dibiarkan saja
air mata nya itu bercucuran deras membasahi pipinya. Cindai marah, dia kesal,
dia kecewa, dia benci dan semua itu diluapkan dengan memukul-mukul Bagas. “kamu
jahat gas! kamu jahaaaaat!!!” teriaknya
Bagas tak berontak. Dia membiarkan tubuhnya
menjadi bulan-bulanan kemarahan Cindai. Dia memang pantas mendapatkan itu,
menurutnya! “pukul aku ndai, pukul aku sepuasnya!” teriak Bagas, “kalo itu
emang bisa ngebuat kamu maafin aku” tambahnya.
Finally tamparan keras mendarat di pipi Bagas.
Plaaak!!! “sakit?!” tanya Cindai sinis. “tapi aku gak cuma sakit gas, aku juga
kecewa, marah dan yg pasti aku benciii banget sama kamu gas!!!” ujar Cindai
dalam, berusaha menahan emosi nya yg meluap-luap. “kita putusss!!! Aku gak mau
lagi kenal sama kamu! kamu brengsek!!!” geram Cindai dan pergi meninggalkan
Bagas sendiri…
“baru pertama kali kamu semarah ini sama aku
ndai” batin Bagas tak percaya.
***
November – February 2014
Sejak saat itu Bagas kehilangan contact dengan
Cindai. Semua upaya untuk menghubungi Cindai sia-sia. Nomor Cindai engga lagi aktif,
di sekolah pun sama. Dia udah jarang masuk. Rumah nya sering sepi, seperti tak
berpenghuni. Cindai mulai mundur perlahan dari kehidupan Bagas.
Sampai akhirnya Bagas pun tau kalo Cindai sudah
pindah ke Manado. Tanpa pamit, tanpa memberi kesempatan untuk Bagas menjelaskan
semuanya. Dia merasa hidupnya kini sia-sia. Untuk apa hidup terus menerus dalam
penyesalan? Terakhir kali Bagas mendapatkan nomor baru Cindai dari teman
sekelasnya Cindai. Namun percuma, telponnya gak pernah diangkat. Sms nya pun
gak pernah dibalas. Pernah Bagas coba hubungi dia pakai nomor lain, diangkat
sebentar. Namun ditutup lagi, lagi dan lagi… Bagas has got depress!
“Sha, coba lu yg telpon Cindai gih” suruh Bagas.
“Kenapa engga lo aja?!” tanya Marsha, teman sekaligus sepupu Cindai.
“Yaelah udah sering, kalo diangkat sih ngapain
gue nyuruh lo! Engga pernah diangkat ama Cindai. Ayo dong, gue pengen banget
denger suaranya!” cerocos Bagas
“Yeee bawel! Yaudah yaudah…”
“Yes!!! Load speaker ya, gue pengen denger
suaranya!”
“Okay!” Koneksi pun tersambung, ada sapaan khas
dari seseorang di ujung telpon sana dan itu membuat Bagas deg-deg’an sekaligus
seneng bukan kepalang.
“Hallo…” sapa Cindai
“Cindaaaaaaai… Marsha nih!” saut Marsha
“Iya gue tau. Apa kabar sha?” tanya Cindai. Bukannya
menjawab, Marsha justru sibuk menutup mulut Bagas. Saking excited nya Bagas,
pengen sekali menyapa Cindai tapi Marsha tau kalo itu sama saja mematikan
telponnya dengan Cindai.
Marsha tau kalo Cindai masih sakit hati dengan
Bagas, Marsha juga tau kalo Cindai belum mau berhubungan lagi dengan Bagas.
“Gassss!!! Entar Cindai denger! Lu kan janji cuma mau denger suaranya aja!!!”
bisik Marsha, masih sambil mendekap mulut Bagas yg kegirangan. Bagas pun
mengangguk lemes.
“Sha? Kenapa sih?! Hallo?” ujar Cindai heran.
“Hallo ndai, haha gak papa kok. Eh lu kapan ke Jakarta lagi?” tanya Marsha
“Yaah engga tau sha, kenapa emang? Kangen yaa?”
“Iya lah kangen!!! Banyak tau yg kangen sama
lo!” ujar Marsha sambil melirik Bagas yg senyum-senyum sendiri
“Hahaha masa sih?” tanya nya. Bagas udah
gregetan, dia pengen sekali bilang yess, I miss you Cindai tapi belom bisa! Dia
hanya bisa berucap tapi tanpa bersuara, lalu dia mencium handphone Marsha yg
dibiarkan ditaro di meja.
Marsha mentoyor kepala Bagas, “Handphone gue
bego!!!” ujar Marsha juga tanpa bersuara.
Berbulan-bulan sudah, Cindai mendiami Bagas
seperti itu tapi Bagas gak pernah nyerah. Dia terus berjuang demi dapat maaf
dari Cindai walaupun kemungkinan itu 1:1juta tapi dia masih terus berjuang
sampai akhir hayat nanti.
Tiap hari ratusan missed call dari Bagas,
puluhan SMS dari dia. Kadang cuma nulis; udah makan belom, jangan lupa sarapan,
Bagas sayang Cindai atau kadang mengirimkan kata-kata cinta yg indah sekali
tapi Cindai tetap tak bergeming.
Cindai bukan gak sayang lagi sama Bagas tapi dia
punya seratus alasan untuk mengelak. Meskipun begitu, sekuat apapun gadis itu
menolak tapi hatinya masih saja terpaut dengan seseorang di Jakarta sana -
batinnya sakit, sakit banget… bahkan sampe sekarang dia masih sering nangis
sendiri, memandangi poto-potonya dengan Bagas.
Di dompetnya juga masih terpajang poto mereka berdua
saat di sekolah. Poto itu saat Cindai lagi merayakan ultahnya ke 16, dia
memberikan potongan kue pertamya nya ke Bagas dan pas dijepret saat Bagas
mencium kening Cindai dengan lembut tepat di depan anak-anak satu kelas.
Mungkin urusan pelajaran Cindai memang pintar
tapi dia menjadi sangat bodoh untuk soal ini. Bodoh karena dia engga bisa
menemukan jawaban atas kegalauan dia, bukan seperti matematika yg selalu ada
rumusnya.
Kenyataannya hatinya memang kangen, kangeeeen
sekali dengan cowo yg selalu membuatnya bahagia itu. Dia juga pengen
hubungannya dengan Bagas seperti dulu tapi… Tiap kali dia inget kejadian itu, tiap
kali itu juga ia menolaknya!
---
Padahal sejak peristiwa b’day party Chelsea
waktu itu, Bagas murka dengan Bella. Bagas melabrak Bella dan teman-temannya
pada saat itu. Ternyata Bagas menjadi bahan taruhan oleh Bella dan
teman-temannya. Mereka memberi tantangan ke Bella, apakah dia berani mencium
Bagas di depan banyak orang? Dan tantangan itu pun terjawab sudah…
Waktu itu Bagas sengaja datang lewat pintu
samping karena lewat pintu depan pun percuma, pintu sudah terkunci karena acara
memang udah mau selesai. Saat baru datang Bagas langsung dipanggil Bella cs. “hai
gas, kok baru dateng” tanya Bella saat itu.
“iya nih bel, gue telat. Gue masuk dulu ya” ujar
Bagas beranjak pergi. Dan ketika itu lah Bagas dicegah, Bella menahan tangan
Bagas, Bagas berbalik badan, Bagas kaget melihat Bella langsung melingkarkan
lengannya ke lehernya dan mendaratkan kecupan paksaan itu. Untuk sesaat Bella
menahan moment itu, walaupun dengan susah payah karena keberontakan Bagas tapi
dia harus terus menahan moment itu sampai teman-temannya memberitahukan moment
itu ke semua orang yg ada di sana. Sampai akhirnya Cindai Chelsea dan Difa pun
datang…
Maret, 2014
Semua euphoria menyambut birthday nya Bagas.
Malah orang di rumah sudah excited dari awal Maret lalu. Pagi ini ada team
decoration datang ke rumah Bagas, special untuk mendecor ultah Bagas yg ke 18.
Namun, Bagas masih terdiam di balkon kamarnya.
Udara sejuk pagi itu tak membuatnya merasa nyaman. Ia masih saja tertunduk,
memandangi handphone nya. “Kenapa gak diangkat sih ndai… Bentar lagi ulang taun
Bagas. Apa kamu udah lupa?” batinnya lirih sambil menarik nafas panjang.
Embun pagi itu terasa dingin, dingin sekali…
terlebih untuk Bagas yg hatinya sudah kosong sejak kepergian Cindai. Dia cuma
bisa mengingat-ngingat masa-masa bersama Cindai sambil tersenyum. Tepat setaun
yg lalu, saat semua anggota keluarga nya pergi di saat b’day-nya, cuma dia dan
Cindai yg merayakan bersama di sini. Tepat di balkon ini.
Kalo malam, di sini bisa terlihat bintang-bintang
dengan jelas. Engga ada pohon yg menghalangi – hanya balkon dan beratapkan
langit. Cindai membawa kue ulang taun, komplit dengan lilinya pada saat itu.
Engga besar tapi itu buatan dia sendiri. Kado ultah pun engga mahal tapi Cindai
tau apa yg dibutuhkan Bagas.
Sebuah gitar klasik baru diberikan Cindai saat
b’day Bagas ke 17. “Happy birthday sayang…” ucap Cindai dengan senyumnya sambil
mengecup pipi kiri dan kanan Bagas. Cindai paham sekali, Bagas butuh gitar itu
untuk kebutuhan les musik nya. Lagi-lagi Bagas dibuat tersenyum mengenang masa-masa
itu.
Tanpa sengaja mata nya kini berkaca-kaca. Dia
mengucek kedua matanya, sambil tarik napas panjang. Merasakan udara pagi,
membiarkan udara masuk ke tubuhnya dan mencoba melepaskan diri dari beban yg
dipikulnya.
Di tempat lain…
Tok tok tok… suara orang mengetok pintu di pagi
hari. Ada seseorang bergegas berlari untuk membukanya, “ada apa ya?” tanya
seorang wanita paruh baya ke seseorang di depan pintu.
“benar ini kediaman Cindai Gloria?” tanya
seseorang, dia seperti kurir. “iya benar. Ada apa ya?” tanya wanita itu
“ada paket dari Jakarta untuk Cindai. maaf baru
diantar sekarang, birokrasi pemerintah desa berbelit-belit. Mesti disortir dulu
segala macem jadinya sempet ketahan untuk beberapa lama” beber si kurir
Cindai tanpa sengaja mendengar percakapan itu.
Ia langsung keluar, “ini paket untuk aku?” tanyanya ke kurir
“iya mba” jawab kurir
“Akh?! Ini udah dari dua bulan lalu! Masa baru
diantar sekarang sih pak!?” sewot Cindai saat melihat tanggal di kemasan luar
paket itu. “udah lah sayang… kan udah dianter juga” ujar wanita itu bijaksana
“gak bisa gitu dong mah! Kalo penting gimana
nih?! Bapa mau tanggung jawab, ah?!” geram Cindai, “lagian birokrasi macam apa
sih yg menahan-nahan hak seseorang kayak gini?!” tambahnya
“udah udah… makasih ya pak…” ujar mama Cindai
mengakhiri.
Cindai langsung masuk kamar. Segera ingin ia
buka paket yg beramplopkan cokelat itu. Ternyata ada sebuah compact disk (CD)
dan selembar surat di dalamnya. Surat yg bertuliskan; ‘if you didn’t give me any single time to explain, wish the CD could
let you through exactly what had happened. Luv ya! –Bagas’
Sejak Cindai sama sekali gak mau dengar
penjelasan Bagas, sejak kepergian Cindai ke Manado, sejak Cindai gak mau lagi
berhubungan dengan Bagas, Bagas sengaja merekam penjelasannya di dalam sebuah
kaset. Dalam video itu, Bagas menceritakan semua-muanya. Dari hal kenapa dia bisa
datang telat sampai ke kejadian itu. Semua itu terangkum dalam satu compact
disk itu.
Cindai menangis sejadi-jadinya. Ia ingin sekali
teriak sekencang-kencangnya. Dia begitu menyesal apa yg udah dia lakukan ke
Bagas. Dia merasa bersalah sekali. Dia merasa jadi orang yg paling jahat
sedunia! She feels she doesn’t deserve to get forgiveness from Bagas.
“Bagaaaaaaas…” lirih Cindai sambil memandangi
poto kebersamaan mereka. “Ya Tuhan… jahat banget aku Tuhan” batinnya sambil
melihat handphone dan ternyata ada ratusan missed call di notifications nya.
12.00AM WIB
“Happy birthday Bagas… Happy Birhtday Bagas…
Happy Birthday Bagas…”
Semua orang bernyanyi, menyelamatkan Bagas. Ada
keluarga, teman-teman dan saudara semua ngumpul malam itu. Bagas meniup lilin
dengan hati yg galau. Tak ada seseorang special di sampingnya, kecuali keluarga
dan teman.
Marsha dan Chelsea melihat Bagas dari jauh dan mereka
tersenyum – layaknya memberi semangat kepada seorang teman yg sedang rapuh.
Usai sesi potong kue, Bagas menarik diri dari
ramainya pesta. Dia pergi ke balkon favorite nya, sendirian. Mengambil
handphone dari saku nya dan lagi dan lagi ia hanya memandangi nya. Memandangi
wallpaper poto dirinya bersama Cindai.
Engga lama berselang, handphone nya berdering
dan langsung membuatnya kaget. Dia ragu untuk mengangkat, seperti tak percaya…
“ha a a loo” ujar nya agak gemetar
“Happy birthday Bagas, Happy Birthday Bagas,
Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday Bagas…” seseorang menyanyi
diujung telpon sana.
“Cindai? ini Cindai?” ujar Bagas tak percaya.
Tak ada jawaban di ujung telpon sana dan itu membuat Bagas penasaran. Ia yakin
sekali itu suara Cindai…
“Cindai…? Bagas tau itu kamu kan?” ucap Bagas.
Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “Bagas tau, Bagas tau kalo suatu
saat Cindai pasti maafin Bagas. yakan? Kamu kenapa diam aja? Jawab ndai? iya
kan?” desak Bagas
“Bagas…” ucap Cindai memulai. Bagas tersenyum
lebar. Hati nya mulai lega… rasa galau nya perlahan seperti pudar terkikis
dinginnya udara malam.
“Maafin Cindai gas… I’ve been so selfish” ujar
Cindai sedikit terisak
“Cindai gak pernah salah sama Bagas, Bagas yg
salah sama Cindai. Bagas yg sering nyakitin Cindai”
“no no no… coba aja Cindai mau denger penjelesan
Bagas dulu, coba aja Cindai gak pergi, ini gak akan berlarut-larut selama ini.
ini semua salah Cindai!” beber Cindai
Bagas terdiam dan dia tersenyum kecil. “Bagas
ngerti banget kenapa kamu bisa semarah itu ndai… kamu sayang banget kan sama
Bagas?”
“idiiih! GR!!!” Cindai gak terima dan suasana
mulai mencair
“Hahahahaha…”
“…………”
“Hmmm ndai? Will you please come back for me?”
tanya Bagas
“Why should I will?
“Do you still love me?”
“I do. I will be back. Will you wait?”
“I will always wait you here, in Jakarta. luv
you”
“Luv you…”
---
Note:
Thanks for reading guys. First of all, I'm so pleased in able to post a new short story 'again' after missing for a while. I've got no idea how bad my writing now, wish it still could entertain you all. Please let me know what you think, leave me a comment(s) in any social media I have. I will be fascinated to read all of your comments.
Somehow, I'm curious what happen in the day when BaDai meet again. Are you curious as well? Furthermore I've been thinking to write the next story but don't ask me so often when I will post because I'm not sorta an ontime person! Hahaha I will be excited to write this and hope you will be excited to wait too! Thanks
Label: Cerpen |
Navigations! Let's Talk! Followers! message?
The Credits! |