KakaTriaa Blog
Story of My Life

12/26/2014 @ 2:50 PM | 0 Comment [s]


Manado siang itu begitu terik. Matahari seakan sejengkal di atas kepala. Aku sedang kerepotan membawa barang-barangku ini. Tangan kiri dan kanan ku membawa tas hitam lusuh punya Papa. Ada beberapa robekan dan lobang di tiap sudut tasnya. Aku pernah naruh permen dan kelereng di sana pas berangkat sekolah tapi sesampai di sekolah semuanya lenyap karena sudah berjatuhan di jalan.
Aku engga peduli walau rambut ku sudah lepek karna keringat. Baju basah, Kena paparan sinar matahari atau asap polusi dari kendaraan yang wara-wiri.
 “pokoknya aku harus menang, demi ayah” tekadnya bergumam.  
Akhirnya kaki kecil ku terhenti di sebuah gereja cukup besar di tengah kota. Aku tersenyum lebar dan menarik napas panjang. Seolah penderitaanku terhenti sudah. Aku berjalan pelan ke pintu masuk. Saat itu suasananya bernuansa merah dan dipenuhi dengan ornament natal. Di pintu depan terdapat dua pohon natal besar. Ada juga hiasan bertuliskan Welcome and Merry Christmas di atas pintu. “Welcome home Cindai…” ujarku dalam hati.
*** 
15.00 WIT
Gereja sudah dipenuhi orang-orang. Sekedar pengunjung atau jamaat gereja? Entah lah tapi yang jelas mereka datang untuk melihat kompetisi ini.
“Cindai? sudah siap?!” tanya Ibu Maria, pengurus sekaligus panitia kompetisi nyanyi antar gereja seMenado itu.
“Iya bu, sebentar lagi”
“Ingat ya, kamu jadi peserta pertama yang tampil. Do your best, show them off!” ujar Ibu paruh baya itu memberi semangat.
“Yes madam, thank you!”
“Jangan lupa berdoa” pesannya lalu pergi meninggalkan Cindai dengan segala perlengkapan manggungnya.
Aku mengangguk yakin. Kualihkan kembali badan ke depan cermin. Aku tertawa geli. Aku tak menyangka! Penampilan ku tiga ratus enam puluh derajat berubah dari beberapa jam lalu sebelum acara dimulai. Gaun putih, rambut sudah diblow, agak berombak dan bervolume. Poni dikesampingkan. Terlihat sedikit lebih dewasa sih. dan pakai heels yang senada dengan baju. Polesan make up yang natural, terkesan alami dan suci. Perfect!
Engga sia-sia sudah dua minggu ia belajar make up dari tante khusus untuk acara ini. Peralatan make up pun semua dipinjamkan oleh tante nya. Aku sadar banget, untuk makan aku dan keluarga tiap hari saja sudah susah – apa jadinya kalo ditambah beli peralatan make up? Rasanya tak pernah terpikirkan sama sekali.
Baju dan sepatunya pun diberikan oleh sahabat ku yang cukup kaya. Sudah tidak terpakai, katanya. ‘My goodness, baju masih sebagus ini sudah tidak terpakai’?
“Cindai? ayo!” ujar Ibu Maria mengagetkan.
”Hmm!” Aku mengangguk.
Aku memulai berdoa. kupejamkan mata sejenak. ‘Tuhan, terimakasih sudah memberikan kesempatan untuk Cindai bisa ke sini. Terima kasih untuk sepatu, baju dan semuanya. Biarkan Cindai bernyanyi untukMu, mama, papa dan keluarga. Berikan kesempatan untuk Cindai, untuk bisa membahagiakan mereka. Amin’
--- 
Tepuk tangan penonton menyambut ku. Khawatir dan was-was mulai melipir di pikiran. Berdiri di atas panggung yang dilatarbelakangi pohon natal merah, lengkap dengan kado-kado di bawahnya. Ditonton puluhan orang. Ada piano hitam plus dengan sang pianist juga di sudut panggung. Aku menghela napas.
Tak ada mama atau papa di sana, yang ada hanya tante dan sahabatku. Papa dan Mama memang tak tau keikutsertaan ku dalam kompetisi ini. Mereka terlalu khawatir akan ini itu. Bahkan gimana kalau tau acaranya sangat jauh dari desa? Jangankan meminta izin, untuk cerita saja rasanya sudah takut. Aku tau sekali karakter mereka.
Aku mulai memberikan kode ke si pianist. Menandakan siap memulai.
I’m Your Angel berkumandang di gereja itu. Begitu indah, begitu hikmat, begitu mempesona…
*** 
“You did a great job Cindai” puji Ibu Maria di backstage.
“Makasih bu”
“Tinggal kita serahkan sama Tuhan ya…”
Sekarang tinggal menanti pengumuman. Rasanya engga mungkin bisa memenangkan lomba ini. Yang dilatarbelakangi sama les vocal saja belum tentu menang. Apalagi aku? Siapa aku? Cuma anak dari seorang petani dan buruh cuci, yang lagi bermimpi bisa menang lomba di acara yang cukup besar ini. Biarlah, namanya juga mimpi. Nanti saatnya bangun aku juga sudah sadar kembali – ada puluhan pakaian kotor yang mesti diangkut dari rumah-rumah langganan mama.
“Dan pemenangnya adalah…” teriak MC antusias
Semua kontestan sudah berdiri di panggung. Aku tertunduk, hopeless apalagi saat mendengar pengumuman si pemenang.
“Selamat kepada Angel sebagai juara lomba menyanyi antar gereja seMenado!!!” teriak MC.
Hancur sudah harapanku. Sia-sia sudah semua ini. Pinjaman dari tante, pemberian dari sahabatku. Semuanya tak bisa mengantarkanku jadi pemenang. Maafin aku semuanya…
Aku pulang dengan tertunduk. Walaupun orang-orang bilang penampilanku bagus tapi tetap saja aku bukan pemenang. Rasanya malu, kecewa dan sedih. Semuanya campur aduk! Hiburan dari tante dan sahabatku saja rasanya tak berpengaruh apapun. Aku tetap jalan tertunduk. Membawa semua serpihan harapan ini kembali pulang untuk ku rajut kembali.
*** 
Seminggu setelah kompetisi itu, rasanya hidupku mulai tak tenang. Ada saja orang yang mencariku. Bahkan sehari saja, bisa ada puluhan kali telpon yang berdering mencariku. Hmm maksudnya bukan telpon aku tetapi telepon tetangga yang mencariku.
Rata-rata yang menelpon adalah orang-orang yang hadir di kompetisi itu. Mereka semua mengajak aku untuk ke Jakarta, menjadi penyanyi professional di sana. Ah tapi sama sajalah, toh pada akhirnya sebuah mimpi akan tetap menjadi mimpi. Aku hiraukan mereka semua.
Lalu ada orang dermawan yang datang di suatu pagi. Dia mengetuk pintu rumahku secara perlahan. Papa keluar dan diikuti oleh mama. Mereka berbicara serius dan sangat serius. Aku sampai enggak berani untuk diam-diam mengupingnya.
Sampai akhirnya mereka semua melirik ku dengan tajam. Aku takut! Papa engga pernah punya pandangan setajam itu. Apa aku berbuat salah? Mama juga. Matanya mulai berair. Ada apa ini?
“Pergilah ke Jakarta nak” ucap Papa
“Pa? kenapa?” tanya ku kaget
“Pergilah nak, kejar mimpi mu” tambah Mama
“Ini ada apa sih?”
Lalu aku mulai tahu kalau orang dermawan itu adalah seorang produser. Dia diperlihatkan oleh tante ku video penampilanku saat kompetisi itu. Aku engga tahu bagaimana dia bisa meyakinkan Mama dan Papa sampai aku diperbolehkan pergi ke Jakarta.
Namun yang jelas, atas seizin dari kedua orang tua ku itu – aku ke Jakarta. Anak desa kayak aku bisa menginjakkan kaki di kota semetropolitan seperti Jakarta rasanya seperti mimpi. Aku tersenyum lebar di dalam pesawat. Pesawat pertama kali yang aku tumpangi ini juga akan menjadi secuil cerita yang aku akan bagikan saat sukses nanti.
*** 
Berbulan-bulan aku menumpang di rumah Pak Produser ini. Oh tidak, dia bukan hanya produser tapi juga seorang mentor dan ayah. Aku bersyukur sekali sama Tuhan dipertemukan orang baik seperti dia. Aku tak hanya dibekali dengan latihan vocal tapi juga penampilan dan atitut. It is whole package!
Berpindah-pindah dari tv satu dan lain. Berpindah-pindah dari radio satu dan lain. Berpindah-pindah dari mall satu dan lain. Berpindah-pindah dari sekolah satu dan lain untuk promosi debut pertama. Rasanya capek dan lelah kalau sampai perjuangan ini akhirnya akan sama seperti yang udah-udah.
Namun Ibu Maria sesekali suka telpon. Kadang hanya sekedar tanya kabar tapi seringnya juga memberi semangat. Dia selalu bilang Tuhan akan selalu ada untuk umatnya yang berusaha. Itu suplemen yang aku ingat tiap hari. Tiap kali ingat itu, seketika itu juga aku semangat. Terima kasih ibu Maria!
When opportunity meets ability, it is a luck!!! Aku engga lagi promo. Saatnya memanen apa yang sudah ditanam. Tawaran manggung engga berhenti-hentinya datang. Dari dalam kota, luar kota, luar negera bahkan luar benua. Puji Tuhan! Bahkan engga hanya dapat tawaran nyanyi, film pun berdatangan. Banyak produser yang mau mengangkat kisah sedihku but I don’t want to sell my sadness or family background. I will sell my ability in singing. Let my past is always be my past but they will always be my parts in story of my life.
“Seperti itu lah kisah ku…” ujar Cindai tersenyum lebar
Cindai mengakhiri ceritanya di mimbar Gereja Manado, tempatnya beribadah tiap minggu sewaktu masih tinggal di Manado. Jemaat di dalam sana, memberi standing applause terhadap kisah inspiratif yang baru saja dibagikan oleh Cindai. Ada Ibu Maria dan Pak Produser juga disana. Ikut bertepuk tangan bangga. Mama dan Papa tak bisa menahan air matanya. Mereka semua berdiri, menatap bangga putri kebanggaan kota Manado.

Label:


Birthday

8/01/2014 @ 7:06 PM | 0 Comment [s]

Bagas tampak termenung di ruang tengah, di sebuah asrama Idola. Disana berkumpul semua para calon idola, mereka di sini belajar dan berlatih; bukan hanya berlatih bagaimana menyanyi dan menari dengan baik tapi mereka juga diajarkan bagaimana menjadi seorang idola yg memiliki attitude yang baik. Bagas salah satu member idola yang sudah bergabung di asrama itu  sejak tahun lalu dan sekarang asrama dan teman-temannya adalah keluarga barunya.
Dia masih termenung. Tayangan tv dan keberisikan teman-temannya yg berkumpul di sana tak membuat dirinya lepas dari ketermenungannya. Kaki nya di selonjorkan, ditaruh di atas meja, badannya disenderkan lemas di sofa hitam empuk, kedua tangannya dilipat, ditekuk didekap dadanya dan sesekali ia menghela napas panjang.
Cindai keluar dari kamarnya dengan wajah sumringah dan langsung turun menuju ruang tengah. Matanya langsung tertuju ke seseorang yg memakai kaos biru yg sedang santai di sofa sana. Dia mendekat, mengendap-ngendap dari belakang dan hap! Cindai menutup mata Bagas dari belakang “tebak siapa aku” tanya nya.
Bagas kaget dan tersenyum dikit. Dia belum mau menjawab. “ih siapa aku!?” tanya Cindai gregetan. “hmm…” Bagas pura-pura mikir. Dia mengendus, mencium aroma wangi shampoo dari rabut Cindai yg basah. “shampoo nya ganti ya?” tanya Bagas ngawur.
“ck iiiih” Cindai kesel. Dia loncat ke sofa dari belakang dengan bête. Bagas tersenyum puas. Wajahnya langsung berubah 180 derajat. Berbalik dengan Cindai, wajahnya langsung ditekuk, mulutnya dimajukkan beberapa centi. “heh!” sikut Bagas mencoba menggoda. “tau ah!” balas Cindai jutek. “diiih emang wangi nya beda, kamu ganti shampoo ya?” kekeuh Bagas, sambil mencium rambut Cindai. “jangan pegang, pegang!” sewot Cindai. menarik rambutnya dan menggeser duduknya sedikit. Bagas kembali tersenyum, dia pun ikut menggeser tubuhnya. Cindai kembali menggeser, dan begitu pula dengan Bagas. “iiih Bagas!!!” teriak Cindai. “iiih Cindai!!!” teriak Bagas.
Sontak anak-anak yg lain langsung melihat Bagas Cindai. “Ciyeeeeeeeeeeee” sorak mereka. “yee biasa deh tom & jerry” ledek Difa. “deket berantem, jauh ngangenin haha” timpal Gilang. Cindai langsung melempar bantal sofa tepat ke muka Gilang. “tadi aja murung sekarang senyum-senyum sendiri” samber Chelsea. “siapa yg murung?” tanya Cindai. “tuh!” Chelsea memajukkan mulutnya mengarah ke Bagas. Cindai melihat Bagas cepat, dengan seksama dia memperhatikan cowok di samping nya itu, dahinya dikerutkan seperti penyidik yg sedang menginterograsi, “kamu murung kenapa?” tanyanya curiga. Bagas menyunggingkan senyumnya lebar, matanya tenggelam kemudian menggeleng-geleng, “gak pa-pa” ujarnya. “bohooong!” Cindai tak percaya, “ih kenapa sih gas, cerita deh” desaknya. “gak pa-pa Cindai…” ujar Bagas sambil memegang kedua pipi Cindai yg chubby. “yaudah kalo kamu gak mau cerita!” Cindai masih bête, mulutnya dimajukan. Bagas kembali tersenyum, tangannya diletakkan di kepala Cindai dan mengelus-elus rambut ceweknya.
Jam dinding masih memutar, makin lama makin larut. Makin lama makin sunyi. Satu persatu anak-anak sudah masuk kamarnya masing-masing. Sekarang hanya ada suara detakan jam yg sedikit menyeramkan. Cindai masih sibuk main game di gadget nya. Bagas masih sibuk memperhatikan cewek di sampingnya, sambil memutar otak bagaimana mengutarakan hal yg mengganggu pikirannya itu ke Cindai.
“besok aku gak bisa ikut  birthday party kamu” ujar Bagas pelan, memecahkan keheningan. Cindai sontak terdiam, game nya dibiarkan. “apa gas?” tanyanya memastikan omongan Bagas tadi. “besok pagi-pagi aku harus ke Jakarta, training di PH untuk debut pertama ku” beber Bagas. “hmmm… yaudah” balas Cindai pelan. Bagas menegakkan badannya, matanya menatap Cindai serius dan memegang kedua tangannya, “tapi ndai, aku tuh bener-bener bingung. Aku gak mau ninggalin kamu tapi training itu sangat penting buat karir aku. kamu tau kan, PH itu sangat besar dan pasti mereka gak sembarangan mau ngorbitin artis baru dan ini jadi kesempatan aku!” ujar Bagas semangat. Cindai tersenyum, “iya gas, aku ngerti kok. ini kesempatan kamu dan kamu betul, kamu gak boleh nyia-nyiain. Kamu harus datang, kamu harus manfaatkan kesempatan kamu itu” ujar Cindai dengan semangat. “tapi aku gak mau ninggalin kamu apalagi di hari terpenting kamu” Bagas menunduk lemas. “Bagas…” Cindai menegakkan kepala Bagas, “bener aku gak pa-pa. ulang taun aku kan masih ada taun-taun berikutnya tapi kalo kesempatan kamu, belum tentu terulang kembali” ujar Cindai lirih, sambil mengusap-ngusap pipi Bagas. Tentunya ia tak rela ditinggalkan Bagas apalagi di hari ulang taunnya tapi dia sadar, dia gak mungkin menahan Bagas. Dia gak mau menjadi cewek yg sangat egois. Bagas semakin tak enak dan tak tega meninggalkan Cindai. mimpinya dan perasaanya bener-bener tak akur malam itu. Bahkan ia tak sanggup melihat mata Cindai. Tangannya kembali menggenggam erat kedua tangan Cindai dan matanya mulai berkaca-kaca. Cindai memeluk Bagas erat, mencoba menenangkan perasaan cowoknya itu sambil mengusap-usap bahu Bagas dan tanpa terasa Cindai meneteskan air mata kemudian langsung menghapusnya. Sementara Bagas membenamkan kepalanya.

Pagi itu koper besar sudah siap di teras asrama. Anak-anak asrama udah rapih dengan baju latihannya. Pagi itu latihan koreografi tapi sebelum itu mereka sudah siap mau melepas kepergian salah satu membernya. “ah elu kayak tereleminasi aja gas” cibir Rafli. “kalo udah terkenal jangan lupain kita-kita ya gas” tepuk Gilang memberi pesan. Bagas ketawa garing, “ah elu bisa aja, gak bakal lah gue lupain kalian semua” ujar Bagas. “yakin???” Chelsea tak percaya. Semua anak-anak ketawa, “mungkin kalo Cindai gue baru percaya” tambah Chelsea. Cindai tersenyum kecil, agak sedikit dipaksakan. Sementara Chelsea langsung diberi kode oleh yg lain kalo di sana masih ada kak Agung, manager yg menangani mereka semua. Mungkin kalo hanya ada mereka, mereka berani meledek Bagas & Cindai tapi kalo ada si manager – mereka mau tidak mau harus jaga perkataan mereka. Itu semua karna ada larangan tiap member asrama berpacaran. But you know, rules should be broken eh? Mereka tau larangan itu dan mereka juga bareng-bareng ngelanggar peraturan itu. Difa-Angel, Marsha-Rafli, Bagas-Cindai, semua nya juga tau kalo mereka pacaran tapi tidak untuk si Manager. “kalo Cindai kenapa?” tanya kak Agung tiba-tiba. “ah gak pa-pa kak” kelak Gilang dengan cepat. “ah yaudah ayo gas, nanti ketinggalan pesawat” seru kak Agung dengan lantang sambil beranjak pergi, menuju mobil. “oh iya kak!” jawab Bagas juga dengan lantang.
Sekarang sudah saatnya pamitan ke semuanya. Bagas memeluki teman-temannya satu persatu. Pesan per pesan didengarnya; ada yg bagus tapi banyak juga yg ngawur. Maklum mereka semua sudah seperti kakak-adik, kadang akur tapi sering juga berantem but over all mereka saling menyayangi. Tiba saatnya, pamitan ke Cindai. “Bagas pergi dulu ya” ujar Bagas lesu. “iyaaa… hati-hati ya” jawab Cindai dengan senyum. Mereka berpelukan erat lama sekali. Tiiiin!!! Lalu mereka dikagetkan dengan suara klakson mobil yg dibunyikan kak Agung. Dan mereka segera menyudahi pamitan itu dengan cipika-cipiki. Bye…!!!
Dalam penerbangan menuju Jakarta, Bagas cuma terdiam melihat awan-awan yg bergerak dari jendela. Sesekali menarik napas panjang. Malam nanti, tepat jam 12 Bagas tak bisa ikut merayakan pesta di asrama. Bagas kembali menghela napas panjang, lalu dikeluarkannya sebuah kotak kecil dari jaketnya. Kotak kecil itu berwarna hitam dan isinya ternyata hanya sebuah gantungan handphone berbentuk love. Bagas lalu memandanginya terus menerus dengan senyum penuh penyesalan. Dia ingat waktu membeli gantungan itu di toko souvenir Strawberry. Tiba-tiba memori flashback ter-rewind. “gas ini bagus deh!” ujar Cindai memamerkan sepasang gantungan berbentuk love. “ck ih engga ah, ini baru keren” tolak Bagas, kini gantian memamerkan gantungan skeleton nya. “ih serem deh! ini aja ya, ya ya…” paksa Cindai manja. “ah masa aku pake lope-lope’an ah, ngaco!” tolak Bagas dan pergi. “iiih Bagaaaas… !!!” tahan Cindai sambil merengek, “lucu tauuu!!!” tambahnya. “beli ya ya ya ya…” masih rengeknya. Bagas menggeleng-geleng, wajah manjanya Cindai meluluhkan hatinya. Ia sama sekali tak bisa menolak permintaan ceweknya itu. “yaudah…” ucap Bagas dan Cindai loncat kegirangan. “eh tapi aku gak pake itu ya, masa samaan! Entar ketaun kak Agung berabeh lagi” saran Bagas. Cindai sedikit kecewa tapi akhirnya dia mau mengerti, “iya deh tapi disimpen yaa” katanya. “hmmm simpen gak yaaa…” goda Bagas. “iiih kamu apaan sih! awas aja kalo dikasih ke cewek laen!!!” Cindai ngambek. Bagas tertawa puas, menurutnya semakin cemberut, semakin manis wajah Cindai. “jangankan benda sekecil ini, perasaan sayang aku ke kamu yg gak keliatan juga selalu aku simpen” ucap Bagas. “ngoook!!!” Cindai mengusap muka Bagas geli.
Kejadian itu sekitar beberapa bulan yg lalu. Kini Bagas engga cuma tersenyum tapi dia juga tertawa mengenang kejadian itu. “gas kenapa?” tanya kak Agung di sebelahnya. “ah?! gak pa-pa kak” jawab Bagas kaget dan kembali meneruskan senyum lebarnya.

Jam menunjukkan pukul 7 malam. Selesai meeting dengan PH tadi siang, sore nya jadwal Bagas langsung diisi dengan latihan-latihan kecil. Semuanya lagi-lagi untuk menunjang performance nya dia saat debut nanti. Namun malam ini ia hanya berdiam diri di hotel. Managernya sengaja memberikannya skejul hari itu lebih cepat, agar bisa beristirahat lebih cepat juga karna besok akan ada seabrek skejul latihan yg harus dijalani Bagas.
Bagas mondar-mandir tak tenang. Bolak-balik melihat jam di dinding. 5 jam lagi menuju jam 12, 5 jam lagi menuju ulang taun Cindai. Hatinya berkecamuk! “ih ngapain gue di sini cuma duduk diem!” gumam nya. Dia segera mengambil jaket. Tapi tiba-tiba, “gas, mau kemana?” tanya seseorang di depan pintu. “ah?!” kaget Bagas, “gak kemana-mana kak” jawab Bagas kikuk. “good! Inget besok pagi kamu harus latihan vocal dan jangan telat! Disiplin itu nomor satu!” tegas kak Agung dan pergi ke kamarnya. Bagas cuma mengangguk, antara ngerti dan pasrah. “aaaaaarrrgg!!!” Bagas mengusap-ngusap mukanya kesal, “okay tenang tenang” Bagas menghela napas. “baiklah...” ucap Bagas yakin dan pergi meninggalkan kamar hotelnya.

Asrama Idola, Bali jam 12.00
Semua penghuni asrama sudah kumpul untuk meniup lilin di birthday nya Cindai. Gak mewah-mewah banget, cuma kumpul-kumpul di ruang tengah dengan dekorasi balon-balon berbentuk angka dan huruf seadanya. Semuanya didekor oleh anak-anak dan dibantu oleh beberapa pekerja yg kerja di asrama itu. Cindai dihujani ucapan-ucapan baik dari temen-temennya. Walaupun wajahnya tak sesumringah biasanya namun ia tetep berusaha bahagia di depan semuanya. “makasih yaaa” ujarnya senyum ke setiap orang yg memberinya ucapan selamat. “Bagas gak nelpon ndai?” tanya Chelsea tiba-tiba di tengah keramaian. “engga… mungkin masih sibuk” jawab Cindai. “yaelah sibuk apaan malem-malem gini” sinis Chelsea. Cindai tersenyum, “yaaa namanya juga mau debut pasti latihannya jor-jor’an” ujar Cindai mencoba positif thinking.
Dan jlep! Tiba-tiba lampu padam! “ya olloh malem-malem mati lampu” celetuk Gilang. “nih asrama belom bayar listrik apa ya?!” tambah Novi. “harusnya tadi lilinnya gak usah ditiup ndai” ujar Difa. “yaaah yakali” balas Cindai. “mba Anyuuun nyalain lilinnya dong!!!” teriak Chelsea ke salah seorang pekerja di asrama itu.
“aaaww” teriak Cindai tiba-tiba. “fa, loe pegang-pegang gue ya?!” tanya Cindai dalam kegelapan. “Apa?!” sontak Angel. “difaaa ih kamu mesum banget sih!” tambah Angel. “ya Allah gue gak ngapa-ngapain, tangan gue masih megang kue!” bela Difa. “lah tadi siapa yg pegang-pegang gue?!” Cindai masih heran. “nah loh! setannya Bagas kali” celetuk Gilang. “haha bener bener benerrr” tambah Rafli. “apaan sih!!!” kesal Cindai. “yaaa secara yg berani pegang-pegang lu kan Bagas doang” tambah Marsha kompak. “hah?! elu sering dipegang-pegang Bagas ndai?” tanya Dinda pilon. “aaaah apaan sih elo semua! Ngaco!!!” Cindai semakin kesal dan yg lain kompak mentertawakannya.
Dan kemudian lampu pun menyala, atau dinyalakan kembali lebih tepatnya. Dan sudah ada sosok Bagas tepat di depan Cindai. Cindai menutup mulutnya kaget, matanya mulai berkaca-kaca. “Bagas???” ujar Cindai kaget, “kamu ngapain di sini?” tambahnya. “taraaaaaa” tawa Bagas dengan sumringah. “ih kamu ditanya serius juga” cibir Cindai. “haha tapi seneng kan aku dateng?” Bagas tanya balik. Cindai belum mampu berkata-kata, masih sibuk mengusap air mata yg keluar. “udaaah jangan nangis” Bagas mengusap air mata Cindai, “kamu mah jelek kalo nangis” tambahnya. Cindai ketawa dan sedikit kesal lalu memukul cowok di depannya, “kamu maaah…” ujarnya dan langsung dipeluk Bagas erat. “happy birthday sayaaaang…” ucap Bagas lalu mencium kepala Cindai.
“ciyeeeeeeeeeeeeee” sorak anak-anak. “tuh kan pasti Bagas deh!” ujar Gilang. “iyaaa tiba-tiba dateng kayak setan aja lu!” tambah Difa. “kampreeet lu! gue bela-belain terbang dari Jakarta malam ini” bantah Bagas. “kak Agung gak tau?” tanya Cindai curiga. “hmmm gak akan tau kalo gak dikasih tau” Bagas berdiplomasi. “kalo dia sampe tau?” tanya Chelsea merusak suasana. Anak-anak hanya saling pandang kemudian kompak bilang, “who cares???”
Dan mereka have fun dalam party malam itu. Mungkin satu hal yg Bagas pelajari dalam hal ini bahwa hari ini ya hari ini, besok ya besok. Kita gak pernah tau apa yg terjadi besok, bahkan kita gak tau kita bisa menatap besok atau engga tapi selagi kita menikmati hari ini dengan sepenuh hati, setidaknya kita akan bahagia hari ini. Ya karna kita gak punya garansi juga apakah besok akan bahagia seperti kemarin atau tidak. At least you have to do things wholeheartedly in order to avoid the regret in the future.    

-the end-

Label:


Ku Tunggu Kau di Jakarta

5/26/2014 @ 11:58 AM | 0 Comment [s]

Manado di pagi hari…


Maret, 2014

Suara handphone berdering nyaring, bersaut-sautan dengan ayam berkokok. Jam menununjukkan pukul 6 pagi namun Manado masih saja sunyi sepi. Deringan handphone semakin keras namun tak ada satu pun orang menjawab. 


Sudah berbulan-bulan Bagas & Cindai tak bertemu. Sudah berkali-kali juga Bagas menghubungi seseorang yg disayangnya itu, namun nihil…

Terakhir kali mereka bertemu, saat birthday party nya Chelsea di Jakarta. Waktu itu mungkin terakhir kali nya mereka bersama. Setelah itu mereka seperti tidak mau saling kenal, oh no no no – mungkin hanya Cindai yg tidak mau lagi kenal Bagas. 


Meskipun begitu Bagas terus berusaha untuk mengembalikan hubungan mereka seperti dulu, mencoba menghubungi Cindai terus menerus tapi percuma… Cindai sudah menutup hati nya rapat-rapat untuk Bagas. Bagi Cindai, kejadian waktu itu sudah membuatnya sadar kalau Bagas bukanlah cowok yg baik, bukan seseorang yg pantas dipertahankan dan diperjuangkan. Rasanya semua kepercayaan dia terhadap Bagas selama ini, runtuh tak berbekas.



Oktober 2013,

Semua orang terlihat bahagia. Semua orang terlihat larut dalam pesta yg diadakan Chelsea di ultahnya yg ke 17. Semua family, friend hadir untuk menyelamati gadis cantik itu. 


Cindai, salah satu guest special bagi Chelsea. Seorang sahabat yg sudah dikenalnya dari SD sampai sekarang. Difa juga engga kalah specialnya. Cowok yg beberapa taun terakhir selalu dampingin Chelsea itu, terlihat charming dengan kemeja putih nya.


Bagas, satu-satunya sahabat yg missing saat itu. Sudah dua jam pesta berjalan – Bagas belum juga datang. Sudah bolak-balik Cindai melihat jam tangannya, berkali-kali melihat pintu depan dengan gelisah, berkali-kali juga melihat handpone yg dipegangnya; berharap seseorang mengangkat telponya atau ada seseorang yg menghubungi nya walaupun itu hanya sekedar SMS but it never happen. Bagas masih belum terlihat di pesta yg bertemakan putih itu. 


Di tempat lain…

“Gas, kamu kenapa sih gelisah gitu?” tanya mama Bagas dalam perjalan pulang. “ah engga papa ma” jawab Bagas datar. “pak Amir, bisa cepetan dikit ga?” perintah Bagas ke supir yg mengantar mereka sambil memutar-mutar handphone nya yg lowbet.


Mama Bagas tak mengerti dengan tingkah anaknya itu. Dia hanya menggeleng dan melajutkan pandangannya ke jalan. 


Setelah mendrop mama nya di depan rumah, Bagas cuss menuju b’day party nya Chelsea. Berharap ia engga cukup telat untuk bisa menikmati seru nya pesta itu. Selain itu… dia ingin menepati janji ke seseorang yg telah membuatnya gelisah di acara arisan mamanya. 


Bagas sudah terlanjur janji. Janji nya adalah, ia akan datang malam itu apapun yg terjadi. Janjinya adalah dia akan mendampingi Cindai malam itu. Janjinya adalah dia akan menjadi the only one Cindai’s prince tapi semua itu kayaknya akan berakhir tidak sesuai harapan. Dia datang 10 menit sebelum pestanya usai. 


Di tempat pesta…

“Masih belom dateng ndai?” tanya Chelsea. “engga tau lah. Udah jam segini mah engga dateng kali” jawab Cindai datar.

“mungkin ada urusan kali si Bagas” Difa berspekulasi. Cindai hanya menggerutkan dahi nya.

Saat mereka baru mau meninggalkan pesta, ada suara hiruk-pikuk dari taman samping. Semua orang di taman bersorak-soray dan bertepuk tangan. 


Di taman pandangan orang-orang tertuju pada satu pemandangan yg tak biasa. Pemandangan yg siapapun melihatnya tak akan percaya. Ada Bagas, seseorang yg ditunggu Cindai daritadi terlihat sedang mencium salah satu tamu pesta. “Ciyeeeeeeeee” ledek semua orang. Dan Bella, seseorang yg diteriakan anak-anak di sana tampak memeluk Bagas sangat erat. Memeluknya erat, melingkarkan kedua tangannya di leher Bagas hingga membuat rambut Bagas berantakkan tak beraturan. 


Cindai melihat pemandangan itu dengan kedua matanya. Dia tak mau mempercayainya tapi apa yg diliatnya adalah nyata, itu Bagas! Benar itu Bagas! Dadanya mendadak terasa sesak, kaki nya terasa tak cukup kuat untuk menopang tubuhnya. 


Dan Cindai beranjak meninggalkan tempat itu dengan bercucuran air mata. Ia tak mau satu orang pun tau dia kalo dia sedang menangis, termasuk sahabatnya. “Cindai…” ujar Chelsea berusaha mencegah Cindai pergi.


Di sisi lain, Bagas bersusah payah menyudahi hal yg memalukan itu. Penampilannya jadi berantakan, sekitar mulutnya belepotan sisa-sisa lipstick yg menempel. Dia melihat Bella dengan geram. Ia bingung persis seperti orang bodoh! Ia melihat sekitar, sampai akhirnya melihat ada seseorang sedang berlari meninggalkan taman. Dan dia tau itu Cindai… 


Bagas sontak berlari mengejarnya, sambil mengelap mulutnya dengan kemeja putihnya. Mata nya mulai berkaca-kaca. Dia tau, Cindai marah besar dengannya. Meskipun begitu ia engga peduli, yg dia pedulikan adalah apakah Cindai mau mendengarkan penjelasannya dan mau memaafkannya? Dengan pikiran kacau, ia terus berlari…


“Cindaaaai!!!” teriaknya sambil meraih tangan Cindai. Dengan napas yg ngos-ngosan dia menghentikan Cindai dengan memeluknya dari belakang. “itu semua engga seperti yg kamu liat ndai…” ujar Bagas dengan cepat. 


Cindai berontak, dia berbalik badan. Matanya merah, mungkin tangannya sudah udah lelah menghapus air matanya lalu dibiarkan saja air mata nya itu bercucuran deras membasahi pipinya. Cindai marah, dia kesal, dia kecewa, dia benci dan semua itu diluapkan dengan memukul-mukul Bagas. “kamu jahat gas! kamu jahaaaaat!!!” teriaknya


Bagas tak berontak. Dia membiarkan tubuhnya menjadi bulan-bulanan kemarahan Cindai. Dia memang pantas mendapatkan itu, menurutnya! “pukul aku ndai, pukul aku sepuasnya!” teriak Bagas, “kalo itu emang bisa ngebuat kamu maafin aku” tambahnya. 


Finally tamparan keras mendarat di pipi Bagas. Plaaak!!! “sakit?!” tanya Cindai sinis. “tapi aku gak cuma sakit gas, aku juga kecewa, marah dan yg pasti aku benciii banget sama kamu gas!!!” ujar Cindai dalam, berusaha menahan emosi nya yg meluap-luap. “kita putusss!!! Aku gak mau lagi kenal sama kamu! kamu brengsek!!!” geram Cindai dan pergi meninggalkan Bagas sendiri…


“baru pertama kali kamu semarah ini sama aku ndai” batin Bagas tak percaya.   



***

November – February 2014

Sejak saat itu Bagas kehilangan contact dengan Cindai. Semua upaya untuk menghubungi Cindai sia-sia. Nomor Cindai engga lagi aktif, di sekolah pun sama. Dia udah jarang masuk. Rumah nya sering sepi, seperti tak berpenghuni. Cindai mulai mundur perlahan dari kehidupan Bagas. 


Sampai akhirnya Bagas pun tau kalo Cindai sudah pindah ke Manado. Tanpa pamit, tanpa memberi kesempatan untuk Bagas menjelaskan semuanya. Dia merasa hidupnya kini sia-sia. Untuk apa hidup terus menerus dalam penyesalan? Terakhir kali Bagas mendapatkan nomor baru Cindai dari teman sekelasnya Cindai. Namun percuma, telponnya gak pernah diangkat. Sms nya pun gak pernah dibalas. Pernah Bagas coba hubungi dia pakai nomor lain, diangkat sebentar. Namun ditutup lagi, lagi dan lagi… Bagas has got depress! 


“Sha, coba lu yg telpon Cindai gih” suruh Bagas. “Kenapa engga lo aja?!” tanya Marsha, teman sekaligus sepupu Cindai.

“Yaelah udah sering, kalo diangkat sih ngapain gue nyuruh lo! Engga pernah diangkat ama Cindai. Ayo dong, gue pengen banget denger suaranya!” cerocos Bagas

“Yeee bawel! Yaudah yaudah…”

“Yes!!! Load speaker ya, gue pengen denger suaranya!”

“Okay!” Koneksi pun tersambung, ada sapaan khas dari seseorang di ujung telpon sana dan itu membuat Bagas deg-deg’an sekaligus seneng bukan kepalang.

“Hallo…” sapa Cindai

“Cindaaaaaaai… Marsha nih!” saut Marsha

“Iya gue tau. Apa kabar sha?” tanya Cindai. Bukannya menjawab, Marsha justru sibuk menutup mulut Bagas. Saking excited nya Bagas, pengen sekali menyapa Cindai tapi Marsha tau kalo itu sama saja mematikan telponnya dengan Cindai. 


Marsha tau kalo Cindai masih sakit hati dengan Bagas, Marsha juga tau kalo Cindai belum mau berhubungan lagi dengan Bagas. “Gassss!!! Entar Cindai denger! Lu kan janji cuma mau denger suaranya aja!!!” bisik Marsha, masih sambil mendekap mulut Bagas yg kegirangan. Bagas pun mengangguk lemes.


“Sha? Kenapa sih?! Hallo?” ujar Cindai heran. “Hallo ndai, haha gak papa kok. Eh lu kapan ke Jakarta lagi?” tanya Marsha

“Yaah engga tau sha, kenapa emang? Kangen yaa?”

“Iya lah kangen!!! Banyak tau yg kangen sama lo!” ujar Marsha sambil melirik Bagas yg senyum-senyum sendiri

“Hahaha masa sih?” tanya nya. Bagas udah gregetan, dia pengen sekali bilang yess, I miss you Cindai tapi belom bisa! Dia hanya bisa berucap tapi tanpa bersuara, lalu dia mencium handphone Marsha yg dibiarkan ditaro di meja. 


Marsha mentoyor kepala Bagas, “Handphone gue bego!!!” ujar Marsha juga tanpa bersuara.

Berbulan-bulan sudah, Cindai mendiami Bagas seperti itu tapi Bagas gak pernah nyerah. Dia terus berjuang demi dapat maaf dari Cindai walaupun kemungkinan itu 1:1juta tapi dia masih terus berjuang sampai akhir hayat nanti.


Tiap hari ratusan missed call dari Bagas, puluhan SMS dari dia. Kadang cuma nulis; udah makan belom, jangan lupa sarapan, Bagas sayang Cindai atau kadang mengirimkan kata-kata cinta yg indah sekali tapi Cindai tetap tak bergeming.


Cindai bukan gak sayang lagi sama Bagas tapi dia punya seratus alasan untuk mengelak. Meskipun begitu, sekuat apapun gadis itu menolak tapi hatinya masih saja terpaut dengan seseorang di Jakarta sana - batinnya sakit, sakit banget… bahkan sampe sekarang dia masih sering nangis sendiri, memandangi poto-potonya dengan Bagas. 


Di dompetnya juga masih terpajang poto mereka berdua saat di sekolah. Poto itu saat Cindai lagi merayakan ultahnya ke 16, dia memberikan potongan kue pertamya nya ke Bagas dan pas dijepret saat Bagas mencium kening Cindai dengan lembut tepat di depan anak-anak satu kelas.


Mungkin urusan pelajaran Cindai memang pintar tapi dia menjadi sangat bodoh untuk soal ini. Bodoh karena dia engga bisa menemukan jawaban atas kegalauan dia, bukan seperti matematika yg selalu ada rumusnya. 


Kenyataannya hatinya memang kangen, kangeeeen sekali dengan cowo yg selalu membuatnya bahagia itu. Dia juga pengen hubungannya dengan Bagas seperti dulu tapi… Tiap kali dia inget kejadian itu, tiap kali itu juga ia menolaknya!

--- 


Padahal sejak peristiwa b’day party Chelsea waktu itu, Bagas murka dengan Bella. Bagas melabrak Bella dan teman-temannya pada saat itu. Ternyata Bagas menjadi bahan taruhan oleh Bella dan teman-temannya. Mereka memberi tantangan ke Bella, apakah dia berani mencium Bagas di depan banyak orang? Dan tantangan itu pun terjawab sudah…


Waktu itu Bagas sengaja datang lewat pintu samping karena lewat pintu depan pun percuma, pintu sudah terkunci karena acara memang udah mau selesai. Saat baru datang Bagas langsung dipanggil Bella cs. “hai gas, kok baru dateng” tanya Bella saat itu. 


“iya nih bel, gue telat. Gue masuk dulu ya” ujar Bagas beranjak pergi. Dan ketika itu lah Bagas dicegah, Bella menahan tangan Bagas, Bagas berbalik badan, Bagas kaget melihat Bella langsung melingkarkan lengannya ke lehernya dan mendaratkan kecupan paksaan itu. Untuk sesaat Bella menahan moment itu, walaupun dengan susah payah karena keberontakan Bagas tapi dia harus terus menahan moment itu sampai teman-temannya memberitahukan moment itu ke semua orang yg ada di sana. Sampai akhirnya Cindai Chelsea dan Difa pun datang…



Maret, 2014

Semua euphoria menyambut birthday nya Bagas. Malah orang di rumah sudah excited dari awal Maret lalu. Pagi ini ada team decoration datang ke rumah Bagas, special untuk mendecor ultah Bagas yg ke 18.


Namun, Bagas masih terdiam di balkon kamarnya. Udara sejuk pagi itu tak membuatnya merasa nyaman. Ia masih saja tertunduk, memandangi handphone nya. “Kenapa gak diangkat sih ndai… Bentar lagi ulang taun Bagas. Apa kamu udah lupa?” batinnya lirih sambil menarik nafas panjang. 


Embun pagi itu terasa dingin, dingin sekali… terlebih untuk Bagas yg hatinya sudah kosong sejak kepergian Cindai. Dia cuma bisa mengingat-ngingat masa-masa bersama Cindai sambil tersenyum. Tepat setaun yg lalu, saat semua anggota keluarga nya pergi di saat b’day-nya, cuma dia dan Cindai yg merayakan bersama di sini. Tepat di balkon ini. 


Kalo malam, di sini bisa terlihat bintang-bintang dengan jelas. Engga ada pohon yg menghalangi – hanya balkon dan beratapkan langit. Cindai membawa kue ulang taun, komplit dengan lilinya pada saat itu. Engga besar tapi itu buatan dia sendiri. Kado ultah pun engga mahal tapi Cindai tau apa yg dibutuhkan Bagas. 


Sebuah gitar klasik baru diberikan Cindai saat b’day Bagas ke 17. “Happy birthday sayang…” ucap Cindai dengan senyumnya sambil mengecup pipi kiri dan kanan Bagas. Cindai paham sekali, Bagas butuh gitar itu untuk kebutuhan les musik nya. Lagi-lagi Bagas dibuat tersenyum mengenang masa-masa itu.


Tanpa sengaja mata nya kini berkaca-kaca. Dia mengucek kedua matanya, sambil tarik napas panjang. Merasakan udara pagi, membiarkan udara masuk ke tubuhnya dan mencoba melepaskan diri dari beban yg dipikulnya.



Di tempat lain…

Tok tok tok… suara orang mengetok pintu di pagi hari. Ada seseorang bergegas berlari untuk membukanya, “ada apa ya?” tanya seorang wanita paruh baya ke seseorang di depan pintu.

“benar ini kediaman Cindai Gloria?” tanya seseorang, dia seperti kurir. “iya benar. Ada apa ya?” tanya wanita itu


“ada paket dari Jakarta untuk Cindai. maaf baru diantar sekarang, birokrasi pemerintah desa berbelit-belit. Mesti disortir dulu segala macem jadinya sempet ketahan untuk beberapa lama” beber si kurir

Cindai tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Ia langsung keluar, “ini paket untuk aku?” tanyanya ke kurir

“iya mba” jawab kurir

“Akh?! Ini udah dari dua bulan lalu! Masa baru diantar sekarang sih pak!?” sewot Cindai saat melihat tanggal di kemasan luar paket itu. “udah lah sayang… kan udah dianter juga” ujar wanita itu bijaksana

“gak bisa gitu dong mah! Kalo penting gimana nih?! Bapa mau tanggung jawab, ah?!” geram Cindai, “lagian birokrasi macam apa sih yg menahan-nahan hak seseorang kayak gini?!” tambahnya

“udah udah… makasih ya pak…” ujar mama Cindai mengakhiri.


Cindai langsung masuk kamar. Segera ingin ia buka paket yg beramplopkan cokelat itu. Ternyata ada sebuah compact disk (CD) dan selembar surat di dalamnya. Surat yg bertuliskan; ‘if you didn’t give me any single time to explain, wish the CD could let you through exactly what had happened. Luv ya! –Bagas’ 


Sejak Cindai sama sekali gak mau dengar penjelasan Bagas, sejak kepergian Cindai ke Manado, sejak Cindai gak mau lagi berhubungan dengan Bagas, Bagas sengaja merekam penjelasannya di dalam sebuah kaset. Dalam video itu, Bagas menceritakan semua-muanya. Dari hal kenapa dia bisa datang telat sampai ke kejadian itu. Semua itu terangkum dalam satu compact disk itu. 


Cindai menangis sejadi-jadinya. Ia ingin sekali teriak sekencang-kencangnya. Dia begitu menyesal apa yg udah dia lakukan ke Bagas. Dia merasa bersalah sekali. Dia merasa jadi orang yg paling jahat sedunia! She feels she doesn’t deserve to get forgiveness from Bagas.

“Bagaaaaaaas…” lirih Cindai sambil memandangi poto kebersamaan mereka. “Ya Tuhan… jahat banget aku Tuhan” batinnya sambil melihat handphone dan ternyata ada ratusan missed call di notifications nya.



12.00AM WIB

“Happy birthday Bagas… Happy Birhtday Bagas… Happy Birthday Bagas…”

Semua orang bernyanyi, menyelamatkan Bagas. Ada keluarga, teman-teman dan saudara semua ngumpul malam itu. Bagas meniup lilin dengan hati yg galau. Tak ada seseorang special di sampingnya, kecuali keluarga dan teman. 


Marsha dan Chelsea melihat Bagas dari jauh dan mereka tersenyum – layaknya memberi semangat kepada seorang teman yg sedang rapuh. 


Usai sesi potong kue, Bagas menarik diri dari ramainya pesta. Dia pergi ke balkon favorite nya, sendirian. Mengambil handphone dari saku nya dan lagi dan lagi ia hanya memandangi nya. Memandangi wallpaper poto dirinya bersama Cindai.


Engga lama berselang, handphone nya berdering dan langsung membuatnya kaget. Dia ragu untuk mengangkat, seperti tak percaya… “ha a a loo” ujar nya agak gemetar

“Happy birthday Bagas, Happy Birthday Bagas, Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday Bagas…” seseorang menyanyi diujung telpon sana.


“Cindai? ini Cindai?” ujar Bagas tak percaya. Tak ada jawaban di ujung telpon sana dan itu membuat Bagas penasaran. Ia yakin sekali itu suara Cindai…

“Cindai…? Bagas tau itu kamu kan?” ucap Bagas. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “Bagas tau, Bagas tau kalo suatu saat Cindai pasti maafin Bagas. yakan? Kamu kenapa diam aja? Jawab ndai? iya kan?” desak Bagas

“Bagas…” ucap Cindai memulai. Bagas tersenyum lebar. Hati nya mulai lega… rasa galau nya perlahan seperti pudar terkikis dinginnya udara malam.

“Maafin Cindai gas… I’ve been so selfish” ujar Cindai sedikit terisak

“Cindai gak pernah salah sama Bagas, Bagas yg salah sama Cindai. Bagas yg sering nyakitin Cindai”

“no no no… coba aja Cindai mau denger penjelesan Bagas dulu, coba aja Cindai gak pergi, ini gak akan berlarut-larut selama ini. ini semua salah Cindai!” beber Cindai

Bagas terdiam dan dia tersenyum kecil. “Bagas ngerti banget kenapa kamu bisa semarah itu ndai… kamu sayang banget kan sama Bagas?”

“idiiih! GR!!!” Cindai gak terima dan suasana mulai mencair

“Hahahahaha…”

“…………”

“Hmmm ndai? Will you please come back for me?” tanya Bagas

“Why should I will?

“Do you still love me?”

“I do. I will be back. Will you wait?”

“I will always wait you here, in Jakarta. luv you”

“Luv you…”

---



Note:
Thanks for reading guys.  First of all, I'm so pleased in able to post a new short story 'again' after missing for a while. I've got no idea how bad my writing now, wish it still could entertain you all. Please let me know what you think,  leave me a comment(s) in any social media I have. I will be fascinated to read all of your comments.

Somehow, I'm curious what happen in the day when BaDai meet again. Are you curious as well? Furthermore I've been thinking to write the next story but don't ask me so often when I will post because I'm not sorta an ontime person! Hahaha I will be excited to write this and hope you will be excited to wait too! Thanks






Label:



Older Post | Newer Post
Navigations!

Refresh About Cerpen Cerbung


Let's Talk!

Followers!


message?


The Credits!

Template by : Farisyaa Awayy
Basecode by : Nurynn
Full Edited : Tria